BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Halaman

Sabtu, 20 Agustus 2011

Pergi Cinta

Terlambatku menyusuri jalan ini
Tersesat di saat kau menjauh
Terlambatku mengartikan cintamu
Kusadari setelah kau pergi
Berat hati menerima kehilanganmu
Tegarkan aku saat kau memilih dirinya

Pergi cinta lupakanlah aku cinta
Ku relakan akan dia.. ada dipelukmu
Pergi cinta.. hapus bayanganku.. cinta
Bahagiakan dia.. cinta
Sampai akhir waktu
Engkau bersamanya

Terlambatku memenangkan hatimu
Setelah kau menyerah padaku
Ku tak tau sampai kini kau berlalu
Tersadari dirimu selalu di hatiku

Berat hati menerima kekalahanku
Tegarkan aku kini kau menjadi miliknya

Pergi cinta lupakanlah aku cinta
Ku relakan akan dia.. ada dipelukmu
Pergi cinta.. hapus bayanganku.. cinta
Bahagiakan dia.. cinta
Sampai akhir waktu
Engkau bersamanya

Jumat, 19 Agustus 2011

Berpelukan Mesra dengan Kesedihan


RENUNGAN

Berpelukan  Mesra  dengan  Kesedihan


Kesenangan adalah kesedihan yang terbuka kedoknya
Tawa dan airmata datang dari sumber yang sama
Semakin dalam kesedihan menggoreskan luka ke dalam jiwa semakin mampu sang jiwa menampung kebahagiaan.
(KAHLIL GIBRAN)

Kalau boleh memilih, ada banyak sekali manusia yang hanya mau kebahagiaan, dan membuang kesedihan. Sayangnya, sebagaimana alam yang mengenal siklus, kehidupan manusia pun mengenal siklus. Kesedihan dan kebahagiaan adalah salah satu dari banyak siklus yang harus kita lalui.

Tidak ada kehidupan yang tidak diwarnai oleh kesedihan. Diundang maupun tidak, ia akan senantiasa datang. Banyak kejadian bahkan terbukti, semakin ia dibenci dan ditakuti, semakin ia senang dan rajin berkunjung ke diri kita. Maka, sengsaralah hidup mereka yang membenci kesedihan.

Bercermin dari goresan Kahlil Gibran di atas, kesedihan dan kegembiraan adalah dua saudara kembar yang melakukan kegiatannya secara bergantian. Keserakahan, atau sebaliknya kekhusukan doa manusia mana pun tidak akan bisa membuat dua saudara kembar ini berpisah. Ia seperti dua sayap dari seekor burung. Dibuangnya salah satu sayap, adalah awal dari celakanya "burung" kehidupan.

Kahlil Gibran sampai pada pemahaman yang lebih dalam. Tanpa kesedihan, jiwa manapun tidak akan memiliki daya tampung yang besar terhadap kebahagiaan. Ketika kita bercengkrama dengan kebahagiaan di ruang tamu, kesedihan sedang menunggu di pembaringan.

Persoalannya adalah, punyakah kita cukup keberanian dan kesabaran untuk berpelukan mesra dengan kesedihan? Nah, inilah sebuah kualitas pribadi yang dimiliki oleh sangat sedikit orang. Untuk menerima kebahagiaan, kita tidak memerlukan terlalu banyak kedewasaan. Akan tetapi, untuk berpelukan mesra dengan kesedihan, diperlukan kearifan dan kedewasaan yang mengagumkan…

alone

jatuh cinta lah dalam diam, mencintailah dalam kejauhan, cintailah dengan kesederhanaan dan keikhlasan..begitu dekripsi suasana hati sekarang -- i will always miss him, but him love is like the wind i can't see it but i can feel it--- tidak  terlihat memang,,tapi dapat dirasakan, bahkan diri ini yang tahu tentang perasaan sendiri. it's the one that i 've tried to write over and over again, i'm awake to infinite cold ^_^. sedih memang bagi orang lain melihat keadaan yang seperti ini, jauh didalam hatinya tersimpan rasa yang dalam untuk "...." walau tak terucap dengan kata-kata tapi dengan maksud tersirat ini pasti dia tahu, dan suatu saat kau akan temukan "..." di suatu tempat yang tak seorang pun akan menemukan.